Ketahanan Alzheimer: Mengapa Beberapa Otak Menolak Penurunan Meskipun Ada Kerusakan

12

Beberapa orang menunjukkan perubahan otak yang konsisten dengan penyakit Alzheimer—plak amiloid dan tau kusut—namun tetap sehat secara kognitif. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ketahanan ini berasal dari perbedaan cara otak menangani ciri-ciri patologis ini, khususnya kemampuan untuk mencegah penumpukan protein tau yang berlebihan.

Teka-teki Alzheimer: Kerusakan Tanpa Gejala

Penyakit Alzheimer biasanya ditandai dengan penumpukan plak amiloid dan tau kusut, yang mengganggu fungsi otak dan menyebabkan hilangnya memori dan penurunan kognitif. Namun, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa tidak semua orang yang mengalami perubahan otak ini mengalami gejala. Fenomena ini, yang disebut “ketahanan”, menimbulkan pertanyaan kritis mengenai perkembangan penyakit dan potensi mekanisme perlindungannya.

Dua penelitian menjelaskan hal ini. Para peneliti memeriksa otak orang yang sudah meninggal, ada yang menderita Alzheimer, ada yang tidak, dan ada yang tetap utuh secara kognitif meskipun memiliki tingkat plak amiloid yang sama. Analisis mengungkapkan bahwa perbedaan utama bukan hanya keberadaan amiloid, namun seberapa efektif otak mengendalikan tau kekusutan.

Tau vs. Amiloid: Perbedaan Kritis

Plak amiloid tampaknya menjadi pemicu otak untuk akumulasi tau, namun tau adalah pendorong utama penurunan kognitif. Studi menunjukkan bahwa individu yang tahan terhadap Alzheimer memiliki tingkat amiloid yang sebanding dengan mereka yang mengidap penyakit tersebut, tetapi penumpukan tau secara signifikan lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa mencegah penyebaran dan akumulasi tau sangat penting untuk menjaga fungsi kognitif.

Kehadiran amiloid saja tidak menjamin penurunan kognitif; patologi tau berikutnyalah yang menentukan tingkat keparahan penyakit.

Para peneliti juga menemukan bahwa respons otak terhadap amiloid sangatlah kompleks. Meskipun kehadiran amiloid memicu beberapa perubahan, akumulasi tau secara dramatis mengubah fungsi otak di berbagai sistem. Analisis protein terperinci mengungkapkan bahwa hanya sedikit protein yang dipengaruhi oleh amiloid, sementara lebih dari 670 dikaitkan dengan tau. Protein ini mengontrol proses penting seperti pertumbuhan sel, komunikasi, dan pembuangan limbah.

Microglia: Penjaga Kekebalan Otak?

Faktor penting lainnya dalam ketahanan mungkin adalah peran mikroglia, sel kekebalan otak. Sel-sel ini membersihkan kotoran, mengatur peradangan, dan menjaga kesehatan neuron. Mikroglia yang disfungsional terkait dengan perkembangan Alzheimer, namun individu yang tangguh menunjukkan bukti mikroglia yang lebih aktif di area yang penting untuk fungsi kognitif.

Secara khusus, mikroglia ini menunjukkan peningkatan aktivitas pada gen yang terkait dengan pengangkutan instruksi genetik untuk produksi protein, menunjukkan bahwa mikroglia ini mengelola proses seluler secara efisien. Mereka juga menunjukkan penurunan aktivitas pada jalur inflamasi yang intensif energi, yang berpotensi menjelaskan mengapa mereka tetap bersifat protektif dibandingkan destruktif.

Implikasi terhadap Pengobatan

Temuan ini memperkuat gagasan bahwa otak memiliki mekanisme bawaan untuk memerangi patologi Alzheimer. Meskipun solusi terapeutik belum bisa dicapai, memahami bagaimana fungsi otak yang tangguh dapat mengarah pada pengobatan baru yang mencegah penyakit ini, bukan hanya memperlambat perkembangannya. Hasil biologi menunjukkan adanya potensi dalam memanfaatkan pertahanan alami otak.

Studi-studi ini menyoroti perlunya mengalihkan fokus dari sekadar mengurangi amiloid menjadi menargetkan akumulasi tau dan meningkatkan fungsi mikroglia. Hal ini dapat membuka jalan baru untuk mencegah Alzheimer dan menjaga kesehatan kognitif bahkan ketika terjadi kerusakan otak.

Попередня статтяAI Menemukan Lebih dari 1.000 Objek Kosmik yang Tidak Dapat Dijelaskan di Arsip Hubble
Наступна статтяAlga Mempercepat Pencairan Es di Greenland: Umpan Balik Iklim Baru