Peralatan Berusia 160.000 Tahun di Tiongkok Menantang Teori Evolusi Manusia

6

Penemuan arkeologi di Tiongkok tengah menulis ulang kisah pembuatan perkakas manusia purba. Para peneliti telah menemukan koleksi lebih dari 2.600 perkakas batu canggih yang berasal dari 160.000 tahun yang lalu—perkakas yang menunjukkan tingkat kompleksitas teknologi yang sebelumnya diperkirakan tidak ada di Asia Timur pada saat itu.

Teknik Tingkat Lanjut, Garis Waktu Awal

Peralatan yang digali dari situs Xigou di provinsi Henan, termasuk contoh artefak bertangkai : bilah batu yang sengaja ditempelkan pada gagang kayu atau tulang. Ini bukan sekadar membuat batu lebih tajam; ini tentang menggabungkan bahan untuk membuat alat komposit—sebuah lompatan signifikan dalam keterampilan kognitif dan praktis. Bukti paling awal yang diketahui mengenai peralatan komposit semacam itu di Asia Timur, penemuan ini sudah puluhan ribu tahun lebih tua dari penemuan serupa di tempat lain di kawasan ini.

Para peneliti menentukan bahwa alat tersebut digunakan untuk memproses bahan tanaman, dengan analisis mikroskopis menunjukkan pola keausan yang konsisten dengan pengeboran pada kayu atau alang-alang. Hal ini menunjukkan bahwa manusia purba di wilayah tersebut beradaptasi dengan lingkungannya dengan cermat dan memiliki pandangan jauh ke depan, serta menggunakan alat untuk memanipulasi sumber daya secara efektif. Teknik pembuatan alat itu sendiri “tampaknya sudah mapan dan melibatkan beberapa langkah perantara, menunjukkan bukti perencanaan dan tinjauan ke masa depan,” menurut tim peneliti.

Misteri Siapa yang Membuatnya

Pertanyaan terbesarnya adalah: siapa yang membuat alat-alat ini? Periode tersebut menyaksikan banyak spesies hominin hidup berdampingan di wilayah tersebut, termasuk Homo sapiens, Denisovans, H. panjang, dan H. juluensis. Tanpa bukti fosil atau genetik, mustahil untuk mengetahui dengan tepat pembuat pastinya—meskipun penelitian di masa depan mungkin dapat memberikan petunjuk.

Peralatannya sendiri ternyata sangat kecil, banyak yang panjangnya kurang dari 2 inci, namun diproduksi dengan menggunakan metode yang rumit. Hal ini bertentangan dengan asumsi sebelumnya bahwa pembuatan perkakas di Asia Timur pada awalnya hanya terbatas pada perkakas berukuran besar yang dipecah secara kasar. Bukti baru menunjukkan bahwa strategi produksi alat yang canggih muncul jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya.

Membongkar Asumsi Lama

Selama beberapa dekade, konsep yang dikenal sebagai “Garis Movius” telah mendominasi pemikiran arkeologi. Diusulkan pada tahun 1940-an, gagasan ini menunjukkan kesenjangan yang tajam antara budaya perkakas “maju” di Afrika dan Eurasia Barat (dengan kapak genggamnya) dan tradisi pencacahan “konservatif” di Asia Timur. Narasi ini menyiratkan bahwa hominin di Asia Timur mengalami stagnasi budaya. Temuan baru ini benar-benar menantang gagasan ini.

Seperti yang dikatakan oleh seorang pakar, gagasan bahwa Asia Timur sebagai negara yang terbelakang secara budaya tidak pernah akurat. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa peralatan yang lebih rumit di Eropa berbahaya untuk dibuat—dan manusia purba kemungkinan besar memilih metode yang lebih aman dan efisien. Implikasinya jelas: “peralatan sederhana tidak sama dengan pikiran sederhana.” Penemuan Xigou membuktikan bahwa hominin Asia Timur mampu melakukan inovasi dan adaptasi seperti halnya hominin di tempat lain.

Peralatan tersebut berasal dari antara 160.000 dan 72.000 tahun yang lalu, masa ketika masyarakat di wilayah tersebut hidup sebagai pemburu-pengumpul. Meskipun rincian gaya hidup mereka masih belum jelas, kecanggihan peralatan mereka menunjukkan tingkat fleksibilitas dan adaptasi perilaku yang tinggi.

Penemuan ini memaksa para arkeolog untuk meninggalkan bias-bias yang sudah ketinggalan zaman dan mengakui seluruh kecerdikan manusia di seluruh wilayah. Alat-alat tersebut merupakan bukti bahwa Asia Timur bukanlah “daerah yang terbelakang secara budaya,” melainkan sebuah wilayah di mana manusia purba mengembangkan teknologi kompleks secara mandiri.

Попередня статтяNASA Akan Menyertakan Artefak Bersejarah dalam Misi Artemis 2 Bulan
Наступна статтяFajar Kimia Retikuler: Era Baru dalam Ilmu Material