Pemerintahan Trump baru-baru ini meluncurkan perubahan piramida makanan yang memprioritaskan makanan kaya protein seperti daging merah dan susu murni, membalikkan pedoman nutrisi yang telah ditetapkan selama bertahun-tahun. Meskipun langkah ini dianggap oleh sebagian orang sebagai sebuah sandiwara politik, para ahli memperingatkan bahwa hal ini dapat menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan yang signifikan jika diterapkan secara luas. Promosi protein tinggi lemak oleh pemerintah, yang disimbolkan dengan piramida terbalik dengan steak dan keju di atasnya, menandakan pergeseran yang jelas dari rekomendasi untuk membatasi makanan tersebut baik untuk kesejahteraan pribadi maupun kesehatan planet.
Dampak Lingkungan: Lebih Banyak Lahan, Lebih Banyak Emisi
Kekhawatiran utamanya adalah peningkatan permintaan pertanian. Menurut perkiraan dari World Resources Institute (WRI), jika masyarakat Amerika secara signifikan meningkatkan asupan protein seperti yang disarankan oleh pedoman baru ini, maka diperlukan tambahan 100 juta hektar lahan pertanian – kira-kira seluas California – setiap tahunnya. Perluasan ini memerlukan deforestasi, yang selanjutnya akan mempercepat emisi gas rumah kaca.
WRI memperkirakan hal ini dapat menghasilkan ratusan juta ton setara karbon dioksida tambahan setiap tahunnya. Meskipun rekomendasi pemerintah sesuai dengan pola konsumsi Amerika saat ini, peningkatan yang moderat sekalipun dapat memberikan dampak yang besar.
Daging Sapi, Produk Susu, dan Metana: Kekhawatiran Terbesar
Beban lingkungan hidup tidak merata. Sapi dan hewan ternak sejenisnya sangat bermasalah karena pencernaan yang tidak efisien dan emisi metana – gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam jangka pendek. Memelihara ternak juga membutuhkan lebih banyak lahan dibandingkan dengan protein nabati.
Namun, pakar industri seperti Frank Mitloehner dari UC Davis menunjukkan bahwa konsumsi daging sapi relatif stabil di AS, dan masyarakat Amerika telah beralih ke ayam. Selain itu, praktik peternakan modern juga meningkatkan efisiensi, yang berarti lebih sedikit hewan yang dibutuhkan untuk menghasilkan jumlah daging yang sama.
Konteks Politik: Sains vs. Ideologi
Pergeseran ini juga menimbulkan pertanyaan tentang integritas ilmiah. Pemerintahan Trump dilaporkan menolak lebih dari separuh rekomendasi dari Komite Penasihat Pedoman Diet federal (DGAC). Beberapa anggota panel yang terlibat dalam penyusunan pedoman baru ini memiliki hubungan finansial dengan industri daging sapi dan susu, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan transparansi.
Penolakan pemerintah terhadap ilmu pengetahuan iklim melampaui pedoman pola makan. Mereka secara aktif membatalkan peraturan lingkungan hidup dan mengabaikan perubahan iklim sebagai “penipuan ramah lingkungan.”
Pengaruh RFK Jr.: Lemak dan Minyak Biji
Promosi memasak dengan lemak sapi yang dilakukan oleh Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. semakin memperumit masalah ini. Meskipun ada konsensus ilmiah mengenai manfaat minyak nabati, pemerintah tetap mendorong penggunaan lemak, lemak jenuh yang terkait dengan risiko kardiovaskular. Hal ini mencerminkan pengabaian yang lebih luas terhadap ilmu gizi yang sudah mapan dan lebih mengutamakan preferensi ideologis.
Intinya: Dampaknya Kecil, tapi Resikonya Tetap Ada
Meskipun sebagian besar orang Amerika tidak secara ketat mengikuti pedoman diet federal, penerapannya secara institusional dapat memperburuk konsekuensi negatifnya. Jika sekolah atau program pangan berskala besar menerapkan perubahan ini, emisi gas rumah kaca dan dampak kesehatan dapat memburuk.
Piramida makanan baru pemerintahan Trump bukan sekadar saran mengenai pola makan; ini adalah pernyataan politik yang memprioritaskan keuntungan jangka pendek dibandingkan keberlanjutan jangka panjang. Meskipun terdapat efisiensi industri dan pola konsumsi yang ada, potensi kerusakan lingkungan tetap menjadi perhatian nyata.




















