Alergi Air Langka Didiagnosis pada Remaja Setelah Bertahun-Tahun Misteri Sarang Lebah

13

Biduran kronis yang dialami seorang remaja di Kanada, yang muncul setiap kali kulitnya terkena air, akhirnya didiagnosis sebagai aquagenic urticaria – sebuah alergi yang sangat langka terhadap air. Kasus ini menyoroti kesulitan dalam mengidentifikasi reaksi alergi yang tidak biasa dan pentingnya riwayat pasien secara rinci dalam diagnosis.

Gejala Awal dan Tantangan Diagnostik

Pasien pertama kali mengalami gatal-gatal saat dia mulai menstruasi dua tahun sebelumnya. Terlepas dari suhu atau sumber air (pancuran, kolam, hujan), bekas luka dan bercak merah (lebar 1-3 cm) akan muncul dalam waktu 20 menit, dan menghilang setelah 30-60 menit tanpa pengobatan. Khususnya, keringat atau air mata tidak memicu reaksi tersebut.

Hal ini menjadi tantangan karena biduran biasanya disebabkan oleh alergen kontak atau tertelan. Respon imun yang umum – pelepasan histamin setelah paparan – tidak menjelaskan dengan jelas mengapa air saja dapat menyebabkan reaksi. Tes alergi standar untuk debu, kucing, dan kelinci menunjukkan hasil negatif karena tumpang tindih dengan sarang yang disebabkan oleh air. Pasien juga tidak menunjukkan gejala alergi lain seperti pusing atau kesulitan bernapas.

Diagnosis Terkonfirmasi Melalui Tes Provokasi

Setelah upaya antihistamin gagal, dokter melakukan tes provokasi. Memaparkan kulit pasien ke air dalam kondisi terkendali memastikan reaksi tersebut: bekas luka muncul dalam waktu 20 menit, memperkuat diagnosis urtikaria aquagenic.

Kondisi ini sangat jarang terjadi; hanya sekitar 100 kasus yang telah didokumentasikan. Penyebab utamanya masih belum diketahui, meskipun sering kali muncul pada masa pubertas dan lebih sering terjadi pada wanita. Hal ini membuat sulit untuk menentukan pemicunya karena biduran dapat disebabkan oleh tekanan, suhu, olahraga, atau alergen yang lebih umum.

Pengobatan dan Penatalaksanaan Jangka Panjang

Pengobatan awal dengan montelukast (obat asma) memberikan sedikit kesembuhan tetapi tidak menyelesaikan masalah. Pasien merespons dengan baik terhadap cetirizine setiap hari, suatu antihistamin yang menargetkan gejala alergi. Setelah delapan bulan, gejalanya baru muncul kembali ketika dia melewatkan dosisnya.

Setelah 14 bulan masa tindak lanjut, remaja tersebut melaporkan tidak ada pembatasan dalam aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup yang stabil selama dia terus mengonsumsi cetirizine. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun jarang terjadi, urtikaria aquagenik dapat ditangani secara efektif dengan pengobatan yang tepat.

Kasus ini menggarisbawahi betapa pentingnya riwayat pasien secara rinci dan tes paparan langsung ketika menghadapi reaksi alergi atipikal. Apa yang tampak sebagai alergi langsung kadang-kadang bisa menunjukkan kondisi yang hampir unik dalam literatur medis.