Otak Gurita Menantang Teori Kecerdasan Sosial

19
Otak Gurita Menantang Teori Kecerdasan Sosial

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa evolusi otak besar pada gurita dan cephalopoda lainnya mungkin lebih didorong oleh kompleksitas lingkungan dibandingkan interaksi sosial. Selama beberapa dekade, “hipotesis otak sosial” telah mendominasi pemikiran tentang ukuran otak pada hewan: gagasan bahwa otak yang lebih besar berevolusi untuk mengelola kehidupan sosial yang kompleks, sebuah tren yang terlihat pada primata, lumba-lumba, dan bahkan unta. Namun cephalopoda – gurita, cumi-cumi, dan sotong – menghadirkan sebuah teka-teki: mereka menunjukkan kecerdasan tinggi meskipun gaya hidup mereka menyendiri dan minim pembelajaran sosial atau pengasuhan orang tua.

Sebuah studi baru yang dipimpin oleh Michael Muthukrishna di London School of Economics menganalisis data otak dari 79 spesies cephalopoda. Para peneliti tidak menemukan korelasi antara ukuran otak dan perilaku sosial. Sebaliknya, otak yang lebih besar secara konsisten diamati pada spesies yang menghuni lingkungan dasar laut yang lebih dangkal, di mana terdapat lebih banyak objek, peralatan potensial, dan sumber makanan berkalori tinggi. Cephalopoda laut dalam, yang hidup di lingkungan tanpa ciri, cenderung memiliki otak yang lebih kecil. Hal ini menunjukkan bahwa tuntutan ekologi – kebutuhan untuk menavigasi lingkungan yang kompleks dan mengeksploitasi beragam sumber daya – mungkin menjadi pendorong utama evolusi otak cephalopoda.

Temuan ini hati-hati, karena data otak hanya tersedia untuk sekitar 10% dari 800 spesies cephalopoda. Namun tren ini sejalan dengan bukti yang lebih luas yang menunjukkan bahwa otak besar tidak hanya terkait dengan sosialitas. Robin Dunbar, pencetus hipotesis otak sosial, mengakui bahwa tidak adanya struktur sosial pada gurita berarti otak mereka tidak menghadapi tekanan kognitif yang sama. Paul Katz dari University of Massachusetts Amherst mengusulkan bahwa lingkungan laut dalam mungkin memilih otak yang lebih kecil, mirip dengan bagaimana spesies pulau cenderung berevolusi dengan ukuran tubuh yang lebih kecil.

Penelitian Muthukrishna sebelumnya tentang paus dan lumba-lumba juga menunjukkan bahwa ukuran otak berkorelasi dengan kompleksitas sosial dan faktor ekologi. Hal ini mendukung “hipotesis otak budaya”, yang menyatakan bahwa tekanan ekologis dan informasi, selain tekanan sosial, membentuk perkembangan otak. Fakta bahwa cephalopoda, yang berkerabat jauh dengan vertebrata, menunjukkan pola serupa memperkuat gagasan ini.

Pada akhirnya, penelitian ini menggarisbawahi bahwa evolusi otak besar adalah proses yang memiliki banyak aspek. Meskipun sosialitas mungkin berperan pada beberapa spesies, kompleksitas lingkungan dan ketersediaan sumber daya tampaknya menjadi pendorong utama pada spesies lainnya. Kebutuhan energi dari otak yang lebih besar juga harus dipenuhi, seperti yang dikatakan Dunbar: “Anda tidak dapat memperbesar ukuran otak Anda kecuali Anda memecahkan masalah energi.” Contoh cephalopoda menunjukkan bahwa begitu otak besar terbentuk, otak tersebut dapat digunakan kembali untuk berbagai tugas kognitif, termasuk tugas-tugas yang tidak terkait dengan interaksi sosial.