Kemacetan Evolusioner: Mengapa Melahirkan Tetap Sulit, dan Apa Artinya bagi Masa Depan

19

Persalinan manusia adalah sebuah anomali. Tidak seperti hampir semua mamalia lainnya, spesies kita berjuang melalui proses penting untuk bertahan hidup, seringkali memerlukan intervensi medis, dan terkadang mengakibatkan kematian bagi ibu dan anak. Ini bukan hanya nasib buruk; ini adalah konsekuensi dari pertukaran evolusi selama jutaan tahun. Pertanyaannya bukan apakah melahirkan itu sulit, tapi mengapa semakin sulit, dan apakah kita sedang menuju masa depan di mana melahirkan secara alami menjadi mustahil.

Dilema Kebidanan: Pertukaran Berusia Sejuta Tahun

Penjelasan intinya adalah “dilema obstetrik”. Nenek moyang kita mengembangkan panggul yang lebih sempit untuk memfasilitasi berjalan bipedal secara efisien. Namun hal ini menyempitkan jalan lahir, sehingga menimbulkan konflik dengan bertambahnya ukuran otak bayi kita. Otak yang lebih besar berarti kepala yang lebih besar, sehingga sulit melewati panggul yang sempit. Solusi evolusi? Melahirkan bayi dalam tahap yang belum berkembang, namun hal ini berarti perawatan ibu yang berkepanjangan dan, yang terpenting, risiko komplikasi persalinan yang terus berlanjut.

Dilema ini bukan hanya teori sejarah. Para peneliti sekarang percaya bahwa kemajuan medis modern—khususnya operasi caesar—telah mengubah tekanan selektif. Karena pembedahan menghindari hambatan evolusi, wanita dengan panggul yang lebih sempit masih dapat bereproduksi dengan sukses, mewariskan gen-gen tersebut. Penelitian terbaru di Australia, Meksiko, dan Polandia menunjukkan bahwa bukaan panggul telah menyempit lebih dari satu inci sejak tahun 1926, dan tren tersebut dapat meningkat.

Faktor Penyulit: Pola Makan, Budaya, dan Tekanan Selektif

Ceritanya tidak sederhana. Beberapa orang berpendapat bahwa dilema ini terlalu dilebih-lebihkan, dengan alasan bahwa kesehatan dasar panggul, bukan hanya lebar saluran, adalah hal yang penting. Panggul yang lebih sempit mungkin memberikan dukungan organ yang lebih baik, sehingga mengurangi komplikasi seperti prolaps. Pihak lain menyebutkan adanya peran pergeseran budaya, khususnya meningkatnya medikalisasi persalinan selama satu abad terakhir. Ketersediaan operasi caesar mungkin memiliki pilihan yang lebih longgar untuk panggul yang lebih lebar, yang berarti lebih sedikit gen untuk bukaan panggul yang lebih besar yang diturunkan.

Pola makan adalah faktor kunci lainnya. Peralihan ke pertanian sekitar 12.000 tahun yang lalu memperkenalkan pola makan kaya karbohidrat yang mungkin menghambat pertumbuhan selama masa kanak-kanak, namun secara paradoks mendorong pertumbuhan janin yang lebih besar, sehingga memperburuk tekanan saat melahirkan. Hal ini dapat menjelaskan mengapa populasi tertentu mengembangkan persistensi laktase (kemampuan untuk mencerna susu hingga dewasa) dengan begitu cepat—hal ini mungkin merupakan adaptasi kompensasi terhadap perubahan pola makan yang berdampak pada perkembangan janin.

Masa Depan Kelahiran: Intervensi Bedah atau Adaptasi Evolusioner?

Prospek masa depan “hanya operasi caesar” tidak selalu bisa dihindari. Meskipun beberapa peneliti memperkirakan bahwa intervensi bedah akan menjadi hal yang biasa, ada pula yang percaya bahwa tekanan selektif untuk panggul yang lebih luas tetap ada. Fakta bahwa manusia saat ini kurang bergantung pada cara berjalan yang efisien dibandingkan nenek moyang kita mungkin mengurangi keuntungan evolusioner dari pinggul yang sempit.

Terlepas dari itu, datanya jelas: melahirkan adalah proses yang berisiko tinggi. Puluhan ribu perempuan meninggal setiap tahunnya, dan banyak lagi yang menderita luka-luka yang mengubah hidup mereka. Memahami kekuatan evolusi yang mendasarinya dapat memberdayakan perempuan untuk membuat keputusan yang tepat dan melakukan advokasi untuk perawatan ibu yang lebih baik. Dilema obstetrik bukanlah kegagalan biologi; ini adalah pengingat bahwa evolusi itu berantakan, dan terkadang, harga dari kemajuan itu sangat menyakitkan.